Jagat media sosial digemparkan Bersama penyerangan massal Di oknum dokte dan tenaga Keadaan (nakes). Aksi Massa ini bermula Di seorang pasien BPJS Keadaan Mengkritik lamanya proses Merasakan ruang rawat inap.
Alih-alih Merasakan penanganan emosional yang baik, unggahan pasien tersebut justru dibanjiri komentar miring yang diduga berasal Di oknum Ahli Kebugaran dan nakes. Belakangan, sang pasien dikabarkan meninggal dunia.
Sontak, amarah publik pecah. Netizen berbondong-bondong memburu identitas oknum nakes yang Menyatakan Pendapatnya nirempati hingga menyerang akun tempat mereka bekerja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Spesialis kedokteran jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa Kejadian Luar Biasa ini memperlihatkan betapa rentannya hubungan humanis Di berada Ke bawah tekanan sistem dan paparan media sosial.
Lantas, bagaimana seharusnya kita menyikapi situasi yang memanas ini secara bijak?
1. Terapkan Compassion with Boundaries
dr Lahargo menekankan pentingnya Memiliki rasa empati yang disertai batas etika dan profesionalisme yang sehat (compassion with boundaries). Baik nakes maupun Kelompok perlu memahami bahwa empati bukan berarti membenarkan semua perilaku emosional, melainkan menghargai perasaan sesama tanpa melanggar norma.
“Ke balik seragam tenaga Keadaan ada manusia yang lelah. Tetapi, Ke balik status pasien ada manusia yang Lagi ketakutan dan berharap ditolong. Ke akhirnya, pelayanan Keadaan adalah perjumpaan Ditengah manusia Bersama manusia,” ujar dr Lahargo Di dihubungi detikcom, Rabu (5/8/2026).
2. Hindari Main Hakim Sendiri (Digital Mob Mentality)
Meski kemarahan netizen berangkat Di rasa solidaritas Di korban, dr Lahargo mengingatkan agar amarah tersebut tidak berubah menjadi Aksi Massa perundungan massal yang merendahkan martabat orang lain.
“Seberat apa pun rasa kecewa atau tekanan yang dihadapi, tidak ada situasi yang dapat membenarkan komentar yang merendahkan martabat seseorang. Kata-kata dapat menjadi Terapi, tetapi juga dapat menjadi luka yang memperdalam penderitaan,” tegasnya.
3. Lakukan Saring Sebelumnya Sharing Bersama Prinsip THINK
Untuk mencegah agar ruang digital tidak makin keruh Bersama amarah dan ujaran kebencian, dr Lahargo menyarankan publik Untuk menerapkan lima pertanyaan reflektif Sebelumnya mengetik atau mengunggah komentar:
- True: Apakah yang ditulis ini benar dan sesuai fakta?
- Helpful: Apakah tulisan ini membantu perbaikan keadaan?
- Inspiring: Apakah kalimat ini Menyediakan harapan?
- Necessary: Apakah komentar ini memang perlu disampaikan?
- Kind: Apakah pesan disampaikan Bersama keadaban dan rasa kasih?
4. Melatih Empati Setiap Hari
dr Lahargo mengingatkan bahwa empati bukanlah bakat bawaan, melainkan kebiasaan yang bisa dipelajari dan dilatih terus-menerus.
“Lebih sering kita mendengarkan tanpa menghakimi dan memilih kata-kata yang membangun, Lebih kuat pula kemampuan empati kita-baik Ke Fasilitas Medis maupun Ke dunia digital,” pungkasnya.
Halaman 2 Di 2
(sao/up)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Viral Pasien BPJS Dihina Ahli Kebugaran-Nakes, Psikiater Bagikan Tips Jaga Empati Ke Medsos











