Jakarta –
Sakit perut Di Pada atas sering kali disimplifikasi Bersama sebutan sakit maag. Padahal, keluhan tersebut bisa dikaitkan Bersama berbagai Situasi maupun penyebab yang belum tentu sama.
Di dunia medis, ada beberapa gangguan pencernaan yang Memperoleh Tanda seperti yang dikenal awam sebagai sakit maag, Antara lain dispepsia, GERD (gastroesophageal reflux disease), dan gastritis. Sebab gejalanya sering tumpang tindih, tidak sedikit orang yang keliru menganggap ketiganya sebagai Gangguan yang sama.
Perbedaan Maag, GERD, dan Gastritis
Ketahui perbedaan maag, GERD, dan gastritis berikut ini.
1. Maag
Sakit maag merupakan istilah awam Untuk menggambarkan berbagai Situasi ketidaknyamanan Di perut, dan yang paling umum adalah Situasi yang Di istilah medis disebut dispepsia. Dikutip Di laman Cleveland Clinic, dispepsia adalah rasa sakit atau ketidaknyamanan yang terjadi Pada sistem pencernaan memproses Konsumsi.
“Dispepsia merupakan sekumpulan Tanda gangguan pencernaan yang terjadi Di saluran pencernaan atas, Bersama keluhan berupa nyeri hingga rasa terbakar Di area ulu hati (epigastrium), perut terasa penuh, cepat kenyang, mual, Malahan muntah,” jelas spesialis Gangguan Di konsultan hati dan saluran cerna Mayapada Hospital Surabaya, dr Gunady Wibowo R., SpPD-KGEH, Di keterangan tertulis beberapa waktu lalu.
Tanda maag sering muncul Di hitungan menit hingga beberapa jam Sesudah makan. Biasanya, lambung membutuhkan waktu Di tiga hingga lima jam Untuk mencerna Konsumsi Sebelumnya diteruskan Hingga usus kecil. Di proses tersebut, pankreas dan kantung empedu melepaskan enzim serta empedu Untuk membantu memecah Konsumsi, tepat Di area yang sama Bersama lokasi nyeri gangguan pencernaan yang sering dirasakan.
“Maag ini umumnya disebabkan Bersama iritasi Di lambung akibat pola makan yang tidak teratur, Beban berlebihan, atau konsumsi Konsumsi dan minuman tertentu yang terlalu pedas, asam, atau berlemak,” kata Spesialis Gangguan Di dr Imelda Maria Loho, SpPD.
2. GERD
GERD terjadi ketika asam lambung naik Hingga kerongkongan. Gejalanya meliputi sensasi terbakar Di dada (heartburn), rasa asam atau pahit Di mulut, nyeri dada, sensasi mengganjal Di tenggorokan, kesulitan menelan, serta perut kembung.
“Situasi ini disebabkan Bersama melemahnya otot Di Pada bawah kerongkongan (lower esophageal sphincter/LES), Agar asam lambung naik dan menyebabkan iritasi,” jelas dr Gunady.
Berbagai faktor yang dapat memicu GERD Antara lain:
- Obesitas: Situasi ini Memperbaiki tekanan dan volume Di perut yang memengaruhi LES, seperti Di kehamilan
- Kehamilan: Tekanan dan volume perut bisa Mendorong, meregangkan, dan melemahkan otot diafrahma yang menopang Lower Esophageal Sphincter (LES) atau otot Di bawah kerongkongan.
- Usia: Orang berusia 50 tahun dan lebih tua lebih besar kemungkinannya Menyaksikan GERD.
- Konsumsi Terapi-obatan tertentu: Terapi-obatan seperti benzodiapedin (sejenis Terapi penenang), NSAID (nonsteroidal anti-inflammatory drugs) atau Terapi antiinflamasi, seperti aspirin dan ibuprofen bisa Memperoleh efek Damai Di LES.
- Gastroparesis: Situasi otot-otot Di lambung tidak menggerakkan Konsumsi sebagaimana mestinya agar bisa dicerna).
- Hernia hiatus: Situasi Pada atas perut menekan Hingga atas Melewati lubang Di diafragma Hingga Di rongga dada.
- Faktor lain: Kebiasaan langsung berbaring Sesudah makan serta riwayat operasi Di area dada dan perut Pada atas.
GERD cenderung menimbulkan sensasi terbakar Di dada atau tenggorokan, terutama Pada berbaring atau tidur Sesudah makan. Sambil Itu, maag umumnya ditandai Bersama nyeri atau rasa kembung yang lebih terfokus Di area perut, terutama Sesudah makan.
3. Gastritis
Gastritis adalah peradangan Di lapisan lambung, yaitu lapisan pelindung berupa lendir yang melapisi dinding lambung. Ketika lapisan pelindung ini melemah atau Menyaksikan kerusakan, cairan pencernaan dapat merusak jaringan lambung dan menyebabkan peradangan.
Menurut dr Gunady, Gangguan ini umumnya ditandai Bersama nyeri yang terasa panas atau perih Di ulu hati, perut kembung, mual dan muntah, nafsu makan menurun, cegukan, serta cepat merasa kenyang.
Beberapa faktor risiko gastritis Antara lain:
- Penyakit Menyebar bakteri: Penyakit Menyebar bakteri yang disebut Helicobacter pylori,adalah salah satu Penyakit Menyebar manusia yang paling umum Di seluruh dunia. Tapi, hanya sebagian orang yang terinfeksi yang Menyaksikan gastritis atau gangguan saluran pencernaan Pada atas lainnya.
- Penggunaan Terapi pereda nyeri secara teratur: NSAID dapat menyebabkan gastritis akut dan gastritis kronis
- Usia lanjut: Orang lanjut usia Memperoleh peningkatan risiko gastritis Sebab lapisan lambung cenderung menipis seiring bertambahnya usia.
- Konsumsi alkohol berlebihan: Alkohol dapat mengiritasi dan merusak lapisan lambung. Hal ini membuat lambung lebih rentan Pada cairan pencernaan.
Diagnosis Gangguan Lambung
Jika Tanda gangguan lambung tidak kunjung membaik, sebaiknya segera memeriksakan diri Hingga Ahli Kebugaran Untuk Menyaksikan penanganan yang sesuai. Di Situasi tertentu, terutama jika Tanda Lebihterus memburuk atau sering kambuh, Ahli Kebugaran dapat merekomendasikan prosedur endoskopi.
Endoskopi bertujuan Untuk memeriksa saluran pencernaan menggunakan endoskop, yaitu selang fleksibel yang dilengkapi Lensa Di ujungnya. Melewati alat ini, Ahli Kebugaran dapat melihat Situasi esofagus, lambung, dan Pada saluran cerna lainnya secara langsung Melewati layar monitor.
“Di hasil pemeriksaan, Ahli Kebugaran dapat menentukan Terapi yang paling tepat. Di Tindak Kejahatan gastritis yang sering kambuh, endoskopi juga bisa membantu mencari penyebab lain, misalnya Gangguan radang usus,” kata Spesialis Gangguan Di dr Muhamad Yugo Hario Sakti Dua, SpPD-KGEH.
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Sering Disorot Sama, Ini Bedanya Sakit Maag, GERD, dan Gastritis yang Wajib Dipahami











