2,95 Juta Peserta CKG Terdeteksi Gangguan Mata, Katarak Masih Karena Itu Tantangan

Jakarta –

Sebanyak 2,95 juta Di 23,35 juta peserta Langkah Cek Kesejajaran Gratis (CKG) Ke 2025-2026 terdeteksi Merasakan gangguan mata. Data ini menjadi pengingat bahwa masalah penglihatan perlu diwaspadai meski seseorang belum merasakan keluhan.

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Praktisi Medis Spesialis Mata Indonesia (PP PERDAMI), Prof dr Budu, PhD, Sp.M(K), M.Med.Ed, memaparkan data tersebut Di media briefing Hari Penglihatan Sedunia 2026 Di Kementerian Kesejajaran (Kemenkes) RI.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Gangguan Kementerian Kesejajaran RI, dr Andi Saguni, MA, mengatakan gangguan penglihatan dapat dialami siapa saja. Menurutnya, banyak gangguan penglihatan yang dapat dicegah, dideteksi Sebelum dini, atau dikoreksi Melewati pemeriksaan mata secara berkala.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Andi menegaskan bahwa skrining merupakan langkah awal, bukan tujuan akhir. Apabila ditemukan gangguan penglihatan, hasil pemeriksaan perlu ditindaklanjuti Melewati Pembelajaran, koreksi penglihatan, Terapi, atau rujukan sesuai kebutuhan.

Jumlah peserta CKG yang terdeteksi Merasakan gangguan mata itu setara Di Disekitar satu Di delapan peserta yang diperiksa. Budu mengingatkan Kelompok agar tidak menunda pemeriksaan mata sampai penglihatan benar-benar terganggu.



“Tapi apa yang terjadi? Mereka tidak sadar, ‘Oh, ternyata ada ya gangguan penglihatan’,” kata Prof Budu.

Menurutnya, sebagian Gangguan mata dapat berkembang tanpa Tanda yang mudah dikenali. Keterlambatan pemeriksaan berisiko membuat gangguan Terbaru diketahui ketika kerusakan penglihatan sudah Lebihterus berat.

Katarak Masih Menjadi Penyebab Utama Kebutaan

Salah satu masalah yang masih menjadi perhatian adalah kebutaan akibat katarak. Di paparannya, Prof Budu menyebut prevalensi kebutaan Ke penduduk berusia Di atas 50 tahun Disekitar 3 persen. Di Tindak Kejahatan kebutaan Ke kelompok usia tersebut, 81,2 persen dikaitkan Di katarak.

Ia juga menyampaikan estimasi 600 ribu hingga 650 ribu Tindak Kejahatan kebutaan akibat katarak berdasarkan survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) Indonesia Ke April 2026. Angka tersebut merupakan estimasi yang disampaikan Budu Di paparannya.

Katarak terjadi ketika lensa mata menjadi keruh Agar penglihatan memburuk. Gangguan penglihatan akibat katarak dapat ditangani Melewati operasi.

Tetapi, akses Di fasilitas Kesejajaran, keterbatasan tenaga medis Di sejumlah Area, biaya transportasi, serta kekhawatiran Pada operasi masih menjadi tantangan.

Prof Budu mengatakan, masih ada Kelompok yang enggan menjalani operasi Kendati katarak dapat ditangani. Kemakmuran ini membuat upaya penanggulangan kebutaan tidak cukup hanya Di menyediakan layanan, tetapi juga perlu Meningkatkan kesadaran Kelompok Untuk memeriksakan mata dan menjalani Terapi yang dianjurkan.

Glaukoma dan Diabetes Juga Mengancam Penglihatan

Selain katarak, Kelompok perlu mewaspadai glaukoma dan retinopati diabetik. Keduanya dapat berkembang tanpa disadari hingga menyebabkan gangguan penglihatan berat.

Prof Budu menyebut glaukoma sebagai pencuri penglihatan Lantaran Gangguan ini dapat merusak saraf optik secara bertahap. Ketika kerusakan sudah terjadi, penglihatan yang hilang tidak dapat dipulihkan seperti semula.

Sambil Itu, retinopati diabetik merupakan gangguan Ke retina akibat diabetes. Budu mengingatkan penyandang diabetes agar tidak menunggu penglihatan kabur Untuk memeriksakan mata.

“Seandainya Terbaru tahun kedua atau tahun ketiga menderita kencing manis, Lalu dia datang mengatakan, ‘Saya mau periksa mata, saya khawatir ini’, itu bisa dicegah,” ujarnya.

Gangguan penglihatan juga perlu diwaspadai Ke anak-anak, terutama kelainan refraksi seperti rabun jauh atau miopia. Anak yang kesulitan melihat tulisan Di papan, sering berpindah tempat duduk agar bisa melihat lebih jelas, atau Merasakan hambatan belajar perlu Merasakan pemeriksaan mata.

Andi juga mengingatkan orang tua dan guru agar memperhatikan tanda-tanda gangguan penglihatan Ke anak, seperti sering menyipitkan mata, mendekatkan Bacaan atau layar Di wajah, dan kesulitan melihat tulisan Di papan.

Prof Budu menekankan pentingnya pemeriksaan mata Untuk anak sekolah, penyandang diabetes dan hipertensi, pekerja Di risiko Luka mata, serta orang berusia Di atas 40 tahun. Orang Di riwayat keluarga atau keluhan Ke mata juga perlu memeriksakan diri sesuai kebutuhan.

Skrining Perlu Diikuti Pemeriksaan Lanjutan

Direktur Gangguan Tidak Menular Kemenkes RI, dr Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, mengatakan CKG dapat membantu menemukan gangguan penglihatan Sebelum awal. Tetapi, hasil pemeriksaan perlu ditindaklanjuti agar Kelompok memperoleh penanganan yang sesuai.

Ke anak sekolah, misalnya, hasil skrining yang Menunjukkan gangguan penglihatan perlu diikuti pemeriksaan lanjutan Di puskesmas. Jika anak membutuhkan Kacamata, penggunaannya juga perlu didukung Pembelajaran kepada orang tua dan anak.

Nadia mengingatkan bahwa sebagian orang tua belum melanjutkan pemeriksaan Sesudah anak terdeteksi Merasakan gangguan mata. Ada pula anak yang sudah Merasakan Kacamata, tetapi tidak menggunakannya.

Lantaran itu, deteksi dini perlu disertai kepatuhan Pada rekomendasi tenaga Kesejajaran. Skrining bukan akhir Di proses penanganan, melainkan langkah awal Untuk menentukan pemeriksaan dan tindakan berikutnya.

Ratusan Ribu Operasi Katarak Dilakukan Ke 2025

Untuk memperluas akses penanganan kebutaan, Budu menyampaikan bahwa PERDAMI melakukan operasi katarak Di berbagai Area, termasuk Melewati kolaborasi Di pemerintah dan mitra lainnya.

Ia menyebut sebanyak 634.642 operasi katarak dilakukan sepanjang 2025. Prof Budu juga menyoroti Pemberian pembiayaan Melewati asuransi Kesejajaran, termasuk Jaminan Kesejajaran Nasional (JKN), Di membantu Kelompok mengakses operasi.

Meski demikian, tantangan geografis dan distribusi Praktisi Medis spesialis mata yang belum merata masih menyulitkan pelayanan Di sejumlah Area. Di paparannya, Budu menjelaskan bahwa Praktisi Medis mata Di Area lain terkadang harus membantu pelayanan Di Area yang kekurangan tenaga spesialis.

Kemenkes juga Melakukanupaya memperluas akses layanan Kesejajaran mata Melewati penguatan tenaga medis dan fasilitas pendukung. Menurut Nadia, jumlah Praktisi Medis spesialis mata Di Indonesia Disekitar 3.000 orang, Di konsentrasi yang masih banyak berada Di Jawa dan Bali.

Kelompok yang Merasakan gangguan penglihatan dapat memanfaatkan layanan pemeriksaan Melewati CKG dan berkonsultasi Di tenaga Kesejajaran mengenai tindak lanjut yang dibutuhkan. Operasi katarak juga dapat diakses Melewati JKN sesuai Syarat yang berlaku.

Budu mengingatkan Kelompok agar tidak menunggu sampai gangguan penglihatan Lebihterus berat Untuk mencari pertolongan.

“Jangan tunggu keluhan itu datang, Lantaran sebagian besar bisa itu dicegah dan kita manfaatkan layanan-layanan yang ada Di ini, seperti layanan cek Kesejajaran gratis Di Kementerian Kesejajaran, operasi katarak Di JKN, atau operasi-operasi massal gratis Di badan-badan filantropi dunia yang senantiasa membantu kita,” pungkasnya.

Halaman 2 Di 3

(up/up)


Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: 2,95 Juta Peserta CKG Terdeteksi Gangguan Mata, Katarak Masih Karena Itu Tantangan