loading…
Eddy Koko, Praktisi Media. Foto/Dok.Pribadi
Praktisi Media
BELAKANGAN ini Ke jagat media ciptaan Mark Zuckerberg dan kawan-kawan, ada Tren Terbaru yang sepertinya sudah keterlaluan. Anak-anak muda kita, entah Lantaran saking kreatifnya atau frustrasinya sudah sampai Ke ubun-ubun, gemar betul menyebut republik ini Bersama nama “Bangsa Konoha”.
Untuk yang rambutnya sudah memutih dan tidak akrab Bersama dunia kartun Jepang, banyak yang tidak tahu bahwa Konoha itu nama sebuah desa fiktif Ke Untuk komik Naruto.
Alkisah, desa itu dipimpin Bersama seorang Hokage—semacam kepala desa merangkap panglima Pertempuran. Kelihatannya mentereng dan adem ayem, tapi Ke dalamnya penuh intrik, nepotisme yang kental, dan urusan hukum yang tajamnya cuma Ke bawah tapi tumpul kalau sudah menyenggol trah para elite.
Rupanya, kelakuan para penggede Ke desa fiktif itu Disorot mirip Bersama kelakuan sebagian oknum yang mengurus negeri kita hari ini. Maka, ketimbang pusing Unjuk Rasa Ke jalanan dan berakhir batuk-batuk kena gas air mata, banyak netizen memilih jalur ninja. Yaitu bikin humor gelap (dark jokes) sambil ketawa kecut Ke pojokan kamar.
Kita, tentu, tidak buta. Kita semua tahu, urusan dapur republik ini memang Lagi tidak baik-baik saja. Ada kalanya kita merasa Bangsa ini dikelola secara serampangan, seperti sopir angkot yang nekat ngebut Ke tikungan tajam tanpa peduli jeritan penumpang Ke Di. Kita sepakat soal itu. Tetapi, mengapa yang diolok-olok harus nama “Indonesia”? Apa salahnya Bersama nama yang suci itu?
Indonesia Bukan Buatan Komikus
Mari kita jernihkan pikiran sambil menyeduh Minuman Kafein hitam. Saudara Masashi Kishimoto Ke Jepang sana hanya butuh selembar Kertas, beberapa batang pena, dan imajinasi yang encer Setelahnya sarapan ramen Untuk melahirkan Desa Konoha. Gampang sekali.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Konoha dan Martabat Kita











