Di banyak gunung, puncak adalah garis akhir. Tetapi Di Gunung Kerinci, puncak justru menjadi gerbang Di Penjelajahan berikutnya. 18 Juni 2026 pagi, tiga pilot paralayang Indonesia berdiri Di titik tertinggi Sumatra, 3.805 meter Di atas permukaan laut.
Di hadapan mereka terbentang lautan awan, hutan tropis, dan rangkaian Pegunungan Bukit Barisan yang memanjang hingga cakrawala. Ketua Paralayang Indonesia Asgaf S.Pd., M.Pd., bersama Dr. Hendra Daniel Wilar, S.H., M.H., serta Hendra Noval Didalam Kerinci Paragliding Club datang bukan sekadar mendaki.
Mereka menjalankan ekspedisi ‘hike and fly’, Aktivitasfisik yang memadukan pendakian gunung dan penerbangan menggunakan paralayang. Di Eropa, khususnya kawasan Alpen, ‘hike and fly’ telah menjadi Pada penting wisata Penjelajahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indonesia sesungguhnya Memperoleh modal yang tak kalah besar. Didalam ratusan gunung dan bentang alam yang beragam, negeri ini menyimpan potensi luar biasa yang belum sepenuhnya dikenal dunia.
Gunung Kerinci berdiri Di jantung Taman Nasional Kerinci Seblat, kawasan konservasi yang menjadi habitat berbagai satwa langka seperti harimau Sumatra, tapir, dan beruang madu. Perpaduan kekayaan alam, geologi, dan Kearifan Lokal Global menjadikan kawasan ini salah satu lanskap pegunungan paling Menarik Perhatian Di Asia Tenggara.
“Sering kali kita mencari destinasi Penjelajahan Di luar negeri, padahal Indonesia Memperoleh lokasi yang kualitasnya setara Justru lebih Menarik Perhatian,” ujar Asgaf.
Perjalanan dimulai sehari Sebelumnya Didalam Pintu Rimba, Kayu Aro. Berbeda Didalam pendaki biasa, peserta ‘hike and fly’ harus membawa perlengkapan mendaki sekaligus perlengkapan terbang Didalam total beban belasan kilogram.
Setiap langkah terasa lebih berat, Tetapi justru Di situlah esensi Aktivitasfisik ini. Jalur pendakian membawa rombongan melintasi hutan hujan tropis yang Diskusi. Kanopi pohon menjulang tinggi, Sambil Itu suara burung dan serangga mengiringi perjalanan.
Lebihterus jauh memasuki rimba, Lebihterus terasa bahwa manusia hanyalah tamu Sambil Itu Di Ditengah alam yang telah hidup Di ribuan tahun. Sesudah hampir sembilan jam berjalan, mereka tiba Di Shelter 3 Untuk bermalam.
Didalam sana, lampu-lampu permukiman Di Lembah Kerinci tampak seperti titik cahaya kecil. Pada malam turun, langit dipenuhi bintang dan bentangan Galaksi Bima Sakti terlihat jelas.
Untuk Hendra Daniel, momen seperti itulah yang membuat seseorang selalu rindu kembali Di gunung. Di alam liar, hidup terasa lebih sederhana dan jernih. Pendakian Di puncak dimulai Sebelumnya fajar.
Medan vulkanik yang curam menguras tenaga, tetapi seluruh perjuangan terbayar ketika matahari muncul Didalam ufuk timur. Langit berubah jingga keemasan, Sambil Itu bayangan Kerinci membentuk siluet raksasa Di atas lautan awan.
Sesampainya Di puncak, perhatian tertuju Di cuaca. Di dunia paralayang, alam adalah penentu utama. Keahlian pilot tidak Berencana berarti tanpa Kebugaran yang mendukung.
Pagi itu, angin bertiup stabil Didalam arah ideal Untuk lepas landas. Di pukul 08.43 WIB, Hendra Daniel menjadi pilot pertama yang mengudara, disusul Asgaf dan Hendra Noval.
Beberapa langkah cepat Di lereng gunung, kanopi terbuka sempurna, lalu tubuh mereka terangkat meninggalkan bumi. Di hitungan detik, puncak Kerinci berubah menjadi titik kecil Di kejauhan. Menurut Asgaf, sensasi pertama Pada terbang bukanlah ketegangan, melainkan ketenangan.
Didalam udara, jalur pendakian tampak seperti garis tipis, Sambil Itu hutan berubah menjadi hamparan hijau tanpa batas. Salah satu pemandangan paling memukau adalah Danau Gunung Tujuh.
Danau kaldera tertinggi Di Asia Tenggara itu tampak seperti batu safir raksasa Di Ditengah pegunungan. Tak jauh Didalam sana, hamparan perkebunan teh Kayu Aro membentuk pola hijau yang mengikuti lekuk lereng.
“Inilah keistimewaan Kerinci. Di satu penerbangan, kita dapat melihat gunung api aktif, hutan hujan tropis, danau kaldera, perkebunan teh, hingga permukiman Komunitas,” kata Asgaf.
Sesudah Disekitar 35 menit mengudara, ketiga pilot mendarat Didalam aman Di kawasan perkebunan teh PTPN IV. Tetapi Sukses penerbangan bukanlah pesan utama ekspedisi ini.
Pesan yang ingin disampaikan jauh lebih besar: Indonesia Memperoleh Kemungkinan menjadi salah satu pusat wisata Penjelajahan dunia. Di berbagai Bangsa, sport tourism berkembang pesat Sebab wisatawan tidak lagi hanya ingin melihat pemandangan, tetapi juga mengalaminya secara langsung.
Kerinci Memperoleh hampir seluruh unsur yang dibutuhkan Untuk menjadi destinasi ‘hike and fly’ kelas internasional, ketinggian ideal, Kebugaran meteorologi yang mendukung, panorama spektakuler, serta Kearifan Lokal Global lokal yang kuat.
Didalam pengelolaan profesional dan komitmen Pada konservasi, kawasan ini Berpeluang menjadi model wisata Penjelajahan berkelanjutan Di Indonesia. Menjelang siang, awan kembali menyelimuti puncak Kerinci.
Gunung itu tampak Damai, seolah tidak terjadi apa-apa. Tetapi seperti semua gunung besar, yang tertinggal bukanlah jejak langkah manusia, melainkan cerita. Cerita tentang langit yang terasa lebih Didekat, angin yang menjadi sahabat perjalanan, dan sebuah pagi Di atap Sumatra yang membuktikan bahwa Penjelajahan kelas dunia tidak selalu berada Di negeri yang jauh. Kadang-kadang, ia berada Di Tempattinggal kita sendiri, menunggu Untuk ditemukan dan diceritakan kepada dunia.
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Hike and Fly, Pilot Paralayang Menari Di Atap Sumatera











