RS Cenderung Sepi Di Bulan Puasa Ternyata Ada Benarnya, Ini Penjelasan Ahli Kebugaran

Jakarta

Ada pemandangan yang cukup berbeda Di koridor Fasilitas Medis maupun klinik Pada bulan Ramadan. Tingkat keterisian tempat tidur atau okupansi pasien rawat inap biasanya cenderung menurun jika dibandingkan Bersama bulan-bulan lainnya.

Konsultan Gastrointestinal Bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, mengonfirmasi Trend Populer ini. Menurutnya, ada dua faktor utama yang menyebabkan jumlah pasien Di Fasilitas Medis tidak seramai biasanya Pada bulan puasa.

Faktor pertama berkaitan Bersama aspek psikologis dan keinginan pasien Sebagai menjalani ibadah Di lingkungan Rumah. Banyak pasien yang sebenarnya Memiliki indikasi medis Sebagai dirawat, Akan Tetapi memilih Sebagai menunda prosedur tersebut jika kondisinya dirasa masih bisa dikelola secara mandiri.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Sebenarnya memang betul ya, Dari Sebab Itu Pada berpuasa ini ada dua hal yang cenderung membuat Penanganan RS tidak seramai kalau pasien tidak berpuasa. Terutama Di sebagian pasien Bersama sakit tidak berat atau kategori ringan-Untuk. Ada indikasi rawat, tapi Lantaran tidak mau dirawat (Di Ramadan), Dari Sebab Itu Di Rumah saja,” jelas Prof Ari kepada detikcom ditulis Rabu (11/3/2026).

Akan Tetapi, ia menegaskan bahwa pilihan ini hanya berlaku Untuk Gangguan ringan. Jika Kebugaran penyakitnya masuk kategori lebih berat, maka prosedur rawat inap tetap wajib dilakukan.



Kelompok Justru Lebih ‘Sehat’ Di Berpuasa

Faktor kedua yang Menarik Perhatian adalah perubahan pola hidup yang membuat Kebugaran tubuh Kelompok justru menjadi lebih stabil Pada Ramadan. Prof. Ari menyebutkan bahwa banyak Gangguan yang kambuh Lantaran pola makan dan minum yang tidak terkontrol Di luar bulan puasa.

“Secara Keseluruhan, pasien datang Ke RS itu Lantaran masalah Minuman dan minuman. Pada puasa, Minuman atau minuman yang biasanya (berlebihan) dikonsumsi Dari Sebab Itu tidak dikonsumsi, Supaya kemungkinan kekambuhan Gangguan itu menurun,” tambahnya.

Untuk pasien maag, pola makan yang menjadi lebih teratur Di sahur dan berbuka, serta berkurangnya kebiasaan mengonsumsi camilan tidak sehat, membuat risiko kekambuhan menurun drastis. Hal yang sama berlaku Untuk pemilik kadar gula darah tinggi.

“Di orang-orang sakit maag, Bersama dia makan teratur Di puasa, Memangkas camilan tidak sehat, dan menjaga diri Bersama baik, maka kekambuhannya menurun. Sama Bersama orang Bersama kadar gula yang tinggi, Pada berpuasa kadar gula darahnya cenderung terkontrol,” ungkapnya.

Halaman 2 Bersama 2

(kna/kna)




Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: RS Cenderung Sepi Di Bulan Puasa Ternyata Ada Benarnya, Ini Penjelasan Ahli Kebugaran