Wisata  

Ritual Untuk Memohon Kesuburan Di Bali



Badung

Di Bali, masih ada kelompok Komunitas yang Melakukan ritual unik Untuk memohon kesuburan. Siat Untek, begitu nama ritual tersebut. Seperti apa prosesinya?

Gemuruh suara gamelan mengiringi tawa riang pemuda dan pemudi Desa Adat Kiadan Di Badung, Bali. Bersama mengenakan Pengganti adat serba putih dan kain (kamben) Wadah-Wadah bercorak poleng merah, mereka berposisi saling berhadapan Di area sakral Pura Beji Untuk Konflik Bersenjata Nguntek atau Siat Untek.

Kelompok pemuda membawa tumpeng (lambang purusa). Sedangkan kelompok pemudi membawa penek atau untek (lambang pradana).


Mereka Sesudah Itu berperang Bersama saling melempar antar kelompok. Suasana saling lempar ini menjadi sangat riuh dan menciptakan suasana kegembiraan yang meluap-luap.

Siat Untek merupakan ritual keagamaan Hindu yang bertujuan memohon kesuburan alam dan kesuksesan hasil panen. Ritus tahunan yang dilakukan secara turun-temurun ini diperkirakan sudah ada Sebelum zaman Kerajaan Bali kuno.

“Kalau menurut beberapa pakar Bersama Dinas Kebudayaan Badung juga itu Bisa Jadi Bersama zaman Kerajaan Bali zaman Dinasti Warmadewa. Kami Di sini tidak diturunkan suatu prasasti atau Untuk bentuk catatan mengenai Kearifan Lokal ini, tetapi itu Kearifan Lokal sudah turun temurun,” kata Bendesa Adat Kiadan, I Nyoman Laba (56).

Prosesi Siat Untek

Siat Untek menggunakan dua sarana utama, yaitu untek (atau penek/kelompokkan) dan tumpeng, yang masing-masing melambangkan unsur purusa pradana. Untek yang berbentuk pipih melambangkan pradana (feminin), Sambil tumpeng yang berbentuk lancip melambangkan purusa (maskulin).

“Untek itu sendiri atau Di sini lazim disebut Bersama kelompokkan. Nah itu, yang berbentuk pipih itu, adalah perlambang daripada pradana atau feminin. Tumpeng itu, yang berbentuk lancip itu, adalah perlambang purusa atau simbol lelaki,” jelas Laba.

Jumah untek dan tumpeng yang digunakan Untuk ritual Konflik Bersenjata Untek juga tak sembarangan. Untek yang digunakan sebanyak 777 buah, sedangkan tumpeng lebih sedikit, yakni 555 buah. Jumlah sarana yang digunakan Untuk upacara ini juga Memiliki makna mendalam.

Untek berjumlah 777 buah melambangkan pengurip bhuana atau seluruh penjuru arah, serta tumpeng berjumlah 555 buah. Untek berwarna kuning melambangkan timur dan tumpeng putih melambangkan barat, menciptakan Konsep Kesejaganan.

“Bersama pertemuan purusa pradana, untek dan tumpeng itu sendiri, nah, itu Untuk memaknai sebuah ritual Untuk mempertemukan purusa pradana agar nanti Sesudah itu terjadi, maka diharapkan itu Berencana melahirkan sesuatu kebaikan,” tambah Laba.

Upacara Konflik Bersenjata Nguntek rutin dilakukan setiap tahun bertepatan Ke Purnama Sasih Kapitu atau purnama bulan ketujuh Untuk kalender Bali.

Persiapan dilakukan Bersama warga Di dua hari Sebelumnya. Ibu-ibu membuat sarana upacara untek dan pemuda (daud teruna) menghias pelinggih serta memasang penjor Di Pura Taman Beji.

Ritual ini selalu diselenggarakan Di Pura Taman Beji, bukan Di Pura Desa atau Pura Puseh Lantaran air adalah simbol utama Bersama kesuburan yang dimohonkan. Sesudah semua upacara selesai, barulah prosesi Siat Untek dimulai.

“Kenapa dilaksanakan Di Pura Beji? Lantaran kami Di sini sudah Produk Internasional tentu Untuk memohon sebuah kesuburan itu ada Di tempatnya air. Semua warga Komunitas, laki, perempuan, dan sekaa gong terutama, juga daud truna Di sini, ikut Untuk prosesi Untuk melakukan ritual atau prosesi Konflik Bersenjata Nguntek itu sendiri,” tegas Laba.

Saling Lempar Pemuda dan Pemudi, Berharap Kesuburan

Prosesi Konflik Bersenjata Nguntek dilaksanakan Bersama cara saling lempar Di warga laki-laki dan perempuan. Laki-laki Memutuskan tempat Di timur Bersama membawa tumpeng, Sambil pihak perempuan Di barat Bersama membawa penek (untek), dan Sesudah Itu mereka saling melempar Bersama harapan lemparan tersebut saling mengenai.

“Lemparan itu bisa saling mengena satu sama lain. Kami meyakini sekali Sesudah diadakan Konflik Bersenjata Untek itu, Bisa Jadi hasil Agrikultur, perkebunan kami Di sini bisa dikatakan berhasil atau Untuk istilah Balinya mupu,” sambung Laba.

Kearifan Lokal ini juga dikaitkan Bersama permohonan kepada Ida Bhatara Sang Hyang Tumbuh yang berstana Di Pucak Mangu, yang Untuk lontar Usana Bali adalah dewa Bersama segala sarwa tumbuh (kesuburan).

Bersama Lantaran keyakinan Berencana Prestasi panen Sesudah ritual ini, warga Desa Adat Kiadan Berkata tidak berani Untuk tidak melaksanakan Kearifan Lokal tersebut.

——-

Artikel ini telah naik Di detikBali.

Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Ritual Untuk Memohon Kesuburan Di Bali