Wisata  

Masjid Didalam Ruang Bawah Tanah Ke Mojokerto Punya Kisah Ke Luar Nalar



Mojokerto

Masjid Agung Wisnu Manunggal Rahmatullah Ke Mojokerto punya kisah Ke luar nalar Di proses pembangunannya. Seperti apa kisahnya?

Masjid ini bisa dibilang paling unik sebab ornamennya tak lazim dan mempunyai ruangan bawah tanah Didalam enam musala. Masjid Agung Wisnu Manunggal Rahmatullah berdiri Ke pekarangan Rumah Halimah (60), ibu Untuk Abdul Wahab Said (40).

Lokasinya berada Ke Dusun Losari, Desa Pekukuhan, Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur. Sebelah timurnya berupa persawahan yang disekat Dari kebun bambu dan saluran irigasi.


Tak sekadar masjid berhiaskan banyak relief, tempat ibadah ini juga mempunyai ruang bawah tanah. Menurut Said, luas ruang bawah tanah mencapai 50×50 meter atau 2.500 meter persegi. Banyak lorong Ke dalamnya yang panjangnya Disekitar 400 meter, enam musala kecil, serta dua sendang.

Said menjelaskan, Masjid Agung Wisnu Manunggal Rahmatullah dibangun mendiang ayahnya, Imam Malik. Imam merupakan pengasuh Ponpes Sambung Sari Noto Prodjo Modjopahit Bangkit Nusantara Djaja. Pria asal Pare, Kediri ini wafat Ke usia 56 tahun Ke 2009.

“Insyaallah dibangun mulai 1994. Pembangunan Pada lima tahun, selesai tidak ada pembangun lagi tahun 1999. Itu tidak hanya ruangan bawah tanah, tapi juga yang atas,” jelas dia Ke rumahnya, Minggu (22/2).

Pembangunan masjid unik ini justru dimulai Untuk ruang bawah tanah. Pembangunannya murni secara manual yang dikerjakan Imam bersama para santrinya. Agar tidak ada tukang dan kuli bangunan maupun warga Disekitar yang terlibat. Sebab, kala itu Imam tak mampu menggaji tukang maupun kuli bangunan.

“Bapak orang tidak punya, tidak bekerja sama sekali, tidak pernah membuat proposal. Pernah (kerja) membuat bata merah pres, tapi ya gagal,” terangnya.

Sedangkan jumlah santri Imam kala itu sangat minim Sebab tak sampai 10 orang. Meski Didalam keterbatasan materi dan tenaga, Imam tetap membangun masjid tersebut.

Justru, Sesudah 27 tahun berlalu, masjid ini masih kokoh. Baik bangunan Ke atas tanah maupun ruangan yang Ke bawah tanah.

“Prinsip dan keyakinan bapak saya, segala sesuatu yang ada Ke sini, bukan keinginan bapak, itu Sebab Gusti Allah. Bapak tidak pernah belajar membuatnya. Padahal sepertinya tidak Mungkin Saja, tapi tetap dilakukan. Itu tadi, tidak bisa dinalar, sedikit Untuk sedikit. Seumpama disuruh mengulangi, tidak berani dan tidak bisa Walaupun dikasih Rp 100 miliar Sebab khawatir ambruk,” ujarnya.

Ke masa awal berdirinya, kata Said, Masjid Agung Wisnu Manunggal Rahmatullah Disorot aneh. Sebab ornamen wayang yang Disorot tak lazim Ke sebuah masjid, kegemaran Imam memakai udeng, serta jargon Majapahit Bangkit Nusantara Jaya.

Padahal, menurut Said, masjid ini beraliran NU. Semasa hidup ayahnya, selawat, diba’, manakib digelar setiap hari Ke masjid dan pondok pesantren ini. Sampai ruangan bawah tanah Merasakan julukan Gua Muhammad Untuk Saidah Alawiyah Untuk Rembang.

“Bapak saya rida dinamakan Gua Muhammad Sebab sepadan, Sebab wirid para pelakunya selawat saja yang banyak. Karena Itu, tahun 1998 Sesudah Pak Harto (Pemimpin Negara Soeharto) lengser, Saidah Alawiyah sowan Hingga pondok seluruh Indonesia, termasuk sini,” ungkapnya.

Sepeninggal Imam, Said dan adiknya yang melanjutkan Kebiasaan keilmuan Ke Masjid Agung Wisnu Manunggal Rahmatullah. Meski tak lagi ada ponpes, mereka rutin mengajar Al-Qur’an kepada anak-anak warga Disekitar masjid. Ia menyebutnya sebagai Padepokan Mayangkara.

——-

Artikel ini telah naik Ke detikJatim.

Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Masjid Didalam Ruang Bawah Tanah Ke Mojokerto Punya Kisah Ke Luar Nalar