Surutnya air Waduk Gajah Mungkur membuat makam-makam kuno bermunculan. Salah satunya makam Eyang Raden Santri. Bagaimana kisahnya?
Batu persegi panjang berwarna krem nampak bertebaran Bersama tepi Waduk Gajah Mungkur (WGM) Di Kelurahan/kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Ditengah.
Batu tersebut merupakan nisan makam kuno yang tenggelam Di dasar WGM. Lokasi makam berada Di 500 meter Bersama Kantor Kelurahan Wuryantoro. Akan Tetapi akses Di Di makam cukup sulit, Lantaran berada Di Ditengah waduk yang surut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Di makam kuno itu, tampak banyak warga yang Ditengah beraktivitas seperti mencari ikan, dan bertani. Mereka terlihat tidak menghiraukan adanya Mutakhir nisan tersebut.
Di didekati, batu nisan ada yang masih utuh, dan ada yang sudah terkikis. Serta Memperoleh panjang yang beragam, Bersama setengah meter hingga 2 meter. Kebanyakan batu nisan yang terbuat Bersama seperti batu kapur itu Memperoleh lubang kecil Di Dibagian Ditengah.
Meski sebagian batu nisan itu sudah terlihat penuh seiring surutnya debit air WGM, Akan Tetapi sebagai batu nisan tersebut masih tenggelam Di air. Beberapa terdapat ukiran tulisan, Akan Tetapi sudah sulit terbaca Lantaran sudah terkikis.
Camat Wuryantoro, Soemardjono Fadjari, mengatakan Kejadian Luar Biasa kemunculan makan kuno Di WGM ini merupakan Kejadian Luar Biasa tahunan Di musim kemarau.
“Setiap kemarau biasanya makam-makam itu mulai terlihat. Tapi Mutakhir sebagian, Lantaran airnya masih cukup tinggi,” kata Soemardjono, Di dihubungi awak media, Rabu (9/9/2026).
Dia mengatakan, biasanya makan kuno itu sudah mulai terlihat Di bulan Agustus. Akan Tetapi tahun ini, Mutakhir terjadi Di bulan September.
“Biasanya Agustus sudah mulai kelihatan. Tahun ini surutnya agak lambat, Supaya belum semuanya muncul,” pungkasnya.
Kisah Makam Eyang Raden Santri
Salah satu tokoh Komunitas Di Kelurahan Wuryantoro, Suparso (77), mengatakan makam itu dulunya berada Di Dukuh Sentono, Desa Ngungkingsari. Meski ada makam bersajarah milik Eyang Raden Santri, Akan Tetapi komplek pemakaman itu merupakan makam umum Untuk warga Sentono.
“Dulunya itu makam kampung, tapi terkenalnya, sesepuhnya, namanya Eyang Raden Santri. Lalu makam itu juga makam keluarganya, anak cucu, dan juga Dari Sebab Itu makam umum,” kata Suparso kepada awak media, Rabu (9/9).
Dia menceritakan, Eyang Raden Santri merupakan warga kampung setempat. Dia merupakan seorang petani biasa. Suatu hari, dia Ditengah mencangkul Sebagai membuat saluran air Di sekitaran sawahnya. Lalu ada seorang pria yang datang dan berjalan Di saluran air yang Ditengah dibuat.
“Eyang Raden Santri Lalu menegur, Lantaran kalau rusak bagaimana. Pria itu mengatakan, Sebagai melihat kembali, apakah tempat bekas ia melintas itu membuat rusak (saluran air), atau tidak,” ucapnya.
|
Makam kuno Di Waduk Gajah Mungkur, Di Kelurahan/Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, Rabu (9/9/2026). Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng
|
Eyang Raden Santri pun melihat kembali sawahnya, dan tidak ada kerusakan Di saluran airnya. Lantaran merasa janggal, Eyang Raden Santri pun Lalu mengejar dan mengikuti pria misterius tersebut.
Di berhasil dikejar, Eyang Raden Santri ditegur Dari pria tersebut Lantaran membuntutinya. Lantaran Eyang Raden Santri menganggap pria itu Memperoleh kesaktian, dia ingin mengikuti pria tersebut. Lalu Eyang Raden Santri dibawa Di Bengawan Solo. Pria tersebut juga membuat rakit Sebagai dinaikin Eyang Raden Santri.
“Kalau kamu mau ikut aku, kamu tak buatkan getek (rakit) ini. Rakit ini kalau jalan, kalau belum berhenti sendiri, kamu tidak boleh mentas (meninggalkan rakit),” ucap mantan dalang itu.
Eyang Raden Santri Lalu menuruti perkataan pria itu. Bersama rakit sederhana, dia menyusuri aliran Bengawan Solo Pada beberapa hari hingga berhenti Di Kampung Keblokan, Desa Sendang Ijo, Kecamatan Selogiri, Wonogiri.
Di sana, Eyang Raden Santri ditemukan warga Untuk Kepuasan lemas Lantaran belum makan beberapa hari. Di Kampung Keblokan, dia diberikan makan, hingga Kepuasan fisiknya pulih.
“Di sana (Keblokan) Eyang Raden Santri Di-Islamkan, diajari baca surat-surat Al-Qur’an. Setelahnya itu, dia disuruh pulang dan menyiarkan agama Islam. Lalu dia punya nama Eyang Raden Santri itu,” terangnya.
“Pria yang diikuti Eyang Raden Santri itu, kita prediksi adalah Wali Songo. Entah Sunan Kalijogo, entah Sunan Giri,” imbuhnya.
Kembali Di Kampung Sentono, Eyang Raden Santri, Lalu menyebarkan ajaran agama Islam. Lantaran ajaran Islam yang disebarkan Eyang Raden Santri, dia Lalu menjadi salah satu tokoh yang dihormati.
Di meninggal, jasadnya dikebumikan Di makam yang kini sudah menjadi proyek WGM. Suparso mengatakan, dulu banyak peziarah yang datang Di makam Eyang Raden Santri.
“Saya dulu pernah nyadran (ziarah), makamnya cukup besar. Sebelumnya orang-orang Di masjid, Di situ juga Sebagai topobroto. Yang berziarah orang Bersama mana-mana,” ucapnya.
Seperti diketahui, pembangunan WGM menenggelamkan 51 desa yang tersebar Di 7 kecamatan Di Kabupaten Wonogiri, Di tahun 1974-1981. Proyek itu juga merelokasi warga dan makam Di kampung Sentono. Suparso mengatakan, warga kampung pindah Di Jambi. Sambil Itu makam-makam dipindah Di Lokasi Balat Kantor Kelurahan Wuryantoro.
“Nisannya (yang lama) dibuang, disana (makam yang Mutakhir) dibuat nisan yang Mutakhir yang lebih bagus. Termasuk Eyang Raden Santri yang kerangkanya juga dipindah. Kalau makan yang itu (Di WGM) sudah suwung (kosong), sudah dipindah semua,” pungkasnya.
——–
Artikel ini telah naik Di detikJateng, bisa dibaca selengkapnya Di sini dan Di sini.
Halaman 2 Bersama 2
Simak Video “Video: Kemenbud Dorong Makam Pahlawan Nasional Dari Sebab Itu Cagar Kebiasaan Global“
(wsw/wsw)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Makam Kuno Muncul Di Waduk Gajah Mungkur Surut, Ternyata Ini Sosoknya











