Banda Aceh –
Kerusakan lingkungan Yang Berhubungan Didalam Genangan Air Aceh Karena Itu sorotan. Perlu restorasi ekologis secara menyeluruh Untuk mengembalikan alam Hingga Situasi seperti semula.
Tak hanya merenggut korban jiwa dan harta benda, bencana Genangan Air yang Mengamuk Aceh dan Lokasi lain Ke Sumatera membawa dampak kerusakan yang serius Untuk lingkungan.
Tercatat puluhan ribu lahan Agrikultur dan perikanan rusak akibat Genangan Air bandang. Area Didalam kerusakan terluas tercatat berada Ke Kabupaten Aceh Utara Didalam luasan lebih Untuk 10 ribu ha, disusul Kabupaten Bireuen Disekitar 4,9 ribu ha dan Aceh Tamiang Disekitar 3,4 ribu ha.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyebab Genangan Air Aceh
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyebut salah satu penyebab bencana ekologis Ke Aceh adalah kerusakan hutan Ke Area hulu Lokasi Aliran Sungai (DAS), khususnya DAS Jambo Aye. Tak kurang hutan seluas 1.100 hektare Ke DAS tersebut dilaporkan rusak Ke 2024.
Samping Itu, pembukaan lahan dan dugaan Kegiatan logging perseorangan Ke Disekitar areal Hak Guna Usaha (HGU), termasuk HGU Tualang Raya, memperparah Situasi tersebut.
Untuk pemantauan citra satelit bulan Januari hingga Mei 2025, terungkap bukaan lahan masif Ke kawasan curam yang terhubung langsung Didalam anak sungai Ke Sungai Jambo Aye.
Walhi menilai Genangan Air Ke DAS Jambo Aye merupakan bencana ekologis akibat akumulasi perusakan lingkungan, ketimpangan pembangunan, serta kegagalan Bangsa melindungi lingkungan hidup dan keselamatan rakyat, yang ditandai Dari Kegiatan ilegal logging dan lemahnya pengawasan HGU.
Kepala Divisi Advokasi dan Pencalonan Politik WALHI Aceh, Afifuddin Acal menegaskan bahwa Genangan Air bukanlah musibah alam, melainkan bencana ekologis akibat buruknya tata kelola lingkungan hidup, mulai Untuk penggundulan hutan, pendangkalan sungai, hingga pengerukan bukit.
“Kami menegaskan perlunya restorasi ekologis dan Penyembuhan kawasan hulu secara serius, disertai audit menyeluruh Di perizinan yang merusak lingkungan serta pelibatan Kelompok Untuk tata kelola, seraya mengingatkan bahwa tanpa penyelamatan Area hulu, Aceh berisiko Berjuang Didalam Genangan Air besar secara berulang dan Justru menjadi bencana bulanan,” ucap Afif, dikutip Rabu (14/1/2026).
Perlu Dilakukan Restorasi Ekologis
Kerusakan hutan Ke Aceh menegaskan pentingnya restorasi ekologi pascabencana berbasis nature-based solutions sebagai upaya Penyembuhan lingkungan, perlindungan ekosistem, dan wisata Sustainability Ke Aceh.
Guru Besar Ekonomi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Achmad Tjachja Nugraha, menegaskan bahwa rekonstruksi Aceh pascabencana harus dilakukan Melewati pendekatan restorasi ekologis yang aktif dan terencana, bukan semata Penyembuhan fisik.
“Kerusakan lingkungan Ke Aceh sudah berada Ke skala yang tidak bisa dibiarkan pulih secara alami. Bangsa harus hadir Melewati restorasi ekologis aktif, terutama Ke sektor Agrikultur dan perikanan yang menjadi tumpuan hidup rakyat,” ujar Prof Achmad.
Ia menjelaskan, restorasi ekologis bertujuan memulihkan integritas dan fungsi ekosistem secara menyeluruh agar kembali produktif, mandiri, dan Memperoleh ketahanan Di bencana Ke masa Di.
Pendekatan ini mencakup rehabilitasi tanah, Penyembuhan Lokasi aliran sungai, penguatan ekosistem pesisir, serta pemanfaatan nature-based solutions sebagai infrastruktur hijau yang berkelanjutan.
Dia menegaskan Penyembuhan hunian dan infrastruktur Ke Aceh harus diiringi Penyembuhan ekosistem dan mata pencaharian Kelompok. Tanpa restorasi ekologi yang terencana dan berkelanjutan, risiko kerentanan ekonomi serta bencana yang berulang Akansegera tetap tinggi.
Tobat Ekologis
Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo Justru sampai menyerukan semua orang Untuk melakukan taubat ekologis. Dia menilai rentetan bencana alam Ke berbagai Lokasi sebagai peringatan serius Untuk bangsa Indonesia. Dia meminta semuanya melakukan pertobatan ekologis secara nasional.
“Kerusakan lingkungan yang berujung Ke bencana harus menjadi refleksi bersama tentang apa yang perlu dibenahi Untuk cara kita memperlakukan alam,” ujar Suharyo dikutip Untuk Di.
Kardinal Suharyo menjelaskan pertobatan ekologis harus dimaknai sebagai perubahan cara pandang dan Cara Hidup manusia agar lebih bertanggung jawab Di alam sebagai Pada Untuk ciptaan Tuhan.
Pertobatan itu tidak selalu diwujudkan Melewati tindakan besar, tetapi dapat dimulai Untuk langkah-langkah kecil Untuk kehidupan sehari-hari.
Dia mencontohkan upaya sederhana seperti Memangkas sampah, menggunakan sumber daya secara bijak, serta menghindari Cara Hidup berlebihan sebagai bentuk tanggung jawab moral Di lingkungan.
(wsw/wsw)
`;
constructor() {
super()
this.attachShadow({ Tren: “open” })
this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
}
async connectedCallback() {
if (elementType === ‘single’) return false;
const { default: Swiper } = await import(
”
);
this.SwiperClass = Swiper;
const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
new this.SwiperClass(swiperContainer, {
slidesPerView: 1,
spaceBetween: 18,
navigation: {
nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
},
pagination: {
el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
clickable: true,
},
});
}
}
customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Kerusakan Lingkungan Genangan Air Aceh Karena Itu Sorotan, Perlu Restorasi Ekologis











