Banyak orang merasa kosong, lelah, sampai kehilangan semangat usai libur Lebaran. Kebugaran ini dikenal Bersama post holiday blues, dan sebaiknya jangan Disorot remeh.
Spesialis kedokteran jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ mengatakan bahwa post holiday blues yang tidak dikelola Bersama baik dapat menjelma menjadi Tekanan kronis hingga depresi yang lebih berdampak buruk.
“Post-Holiday Blues adalah reaksi emosional Sambil yang muncul segera Sesudah berakhirnya waktu yang menyenangkan, seperti liburan panjang. Secara psikologi,” kata dr Lahargo Untuk keterangannya, Kamis (26/3/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kebugaran ini termasuk Untuk adjustment related emotional response, yaitu respons adaptasi Di perubahan situasi hidup. Akan Tetapi, jika berlangsung lama dan berat, Kebugaran ini bisa berkembang menjadi Tekanan kronis atau Justru depresi ringan,” sambungnya.
Mekanisme Psikologis Ke Otak
dr Lahargo menjelaskan mekanisme terjadinya post holiday blues Ke otak manusia.
1. Reward System dan Dopamine Withdrawal
Pertama, Pada liburan, otak manusia berada Untuk Kebugaran reward rich environtment, seperti Kegiatan menyenangkan, kumpul keluarga, hingga minimnya Permintaan.
“Semua ini Meningkatkan Kegiatan zat kimia dopamin Ke otak, yaitu neurotransmitter yang berperan Untuk Inspirasi dan rasa senang,” kata dr Lahargo.
“Tapi, Pada liburan selesai stimulus reward berkurang drastis. Otak Merasakan dopamine withdrawal ringan, muncul rasa kosong, hampa, tidak bersemangat,” sambungnya.
2. Hedonic Adaptation dan Set-Point Theory
Lalu ada Hedonic Adaptation dan Set-Point Theory, yakni manusia yang cenderung kembali Hingga tingkat Kesenangan baseline Sesudah Merasakan peningkatan Sambil. Kebugaran ini Disorot lebih ‘rendah’ Dari otak, atau illusion of decline (ilusi bahwa hidup Dari Sebab Itu lebih buruk).
3. Emotional Contrast Effect
Trend Populer ini menjelaskan bahwa Lebih tinggi puncak emosi, maka Lebih terasa turunnya. Liburan menciptakan rasa diterima Dari keluarga, rasa bebas tanpa Permintaan, hingga magis spiritual.
Akan Tetapi, ketika kembali Hingga rutinitas, maka Permintaan Akansegera Menimbulkan Kekhawatiran, interkasi Dari Sebab Itu lebih formal, dan tekanan kerja muncul. Kontras ini membuat rutinitas terasa “lebih berat Bersama biasanya,” padahal sebenarnya sama.
4. Social Comparison & Identity Threat
Lebaran identik Bersama momen Komitmen sosial, tapi juga terkadang ada perbandingan Ke situ. Seperti ditanya status, pekerjaan, pencapaian, dan pahitnya sering dibanding-bandingkan Bersama orang lain.
Jika hasilnya mereka merasa tertinggal, seolah tidak cukup berhasil, maka
Akansegera muncul identity threat (ancaman Di harga diri). Ini memperkuat post holiday blues.
5. Role Transition Stress
Pada menjalani liburan, peran yang dimainkan adalah sebagai anak, saudara, atau Dibagian Bersama keluarga. Akan Tetapi, Sesudah kembali Hingga rutinitas maka peran berubah Dari Sebab Itu pekerja, mahasiswa, profesional, dan individu lain Bersama segala tuntutannya.
“Perubahan peran ini membutuhkan energi adaptasi. Menurut teori role transition, perubahan identitas sosial dapat memicu Tekanan Sambil (Ashforth),” tutup dr Lahargo.
Halaman 2 Bersama 2
(dpy/up)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: Jangan Anggap Remeh, Post Holiday Blues Bisa Berubah Dari Sebab Itu Depresi











