Menjelang Lebaran Kita Lebih Konsumtif? Ini Faktanya

loading…

Sejumlah pengunjung memilih baju Hingga kawasan Blok M, Jakarta, Senin (16/2/2026). Menjelang Idulfitri, kawasan Blok M dipenuhi pengunjung Untuk berburu baju Lebaran. Foto/SindoPhoto/Yudistiro Pranoto

JAKARTA – Menjelang Lebaran , Kegiatan belanja Komunitas biasanya Meresahkan signifikan. Mulai Bersama membeli Pengganti Terbaru, memperbarui perlengkapan Tempattinggal, hingga menyiapkan berbagai kebutuhan Untuk menyambut keluarga dan tamu. Tanpa disadari, pengeluaran pun sering kali ikut Meresahkan dibandingkan bulan-bulan biasanya.

Kejadian Luar Biasa belanja Ramadan ini sering Disorot sebagai Pada Bersama Kebiasaan tahunan. Akan Tetapi jika dilihat lebih jauh, perilaku konsumtif menjelang Lebaran sebenarnya dipengaruhi Dari kombinasi faktor sosial, ekonomi, dan psikologis yang membentuk cara Komunitas Memutuskan keputusan Pada berbelanja. Baca juga: Puncak Belanja Lebaran Diprediksi Terjadi Pekan Ini, Kunjungan Hingga Mall Bakal Naik 15%

Ramadan sebagai “Musim Belanja”
Peningkatan konsumsi Pada Ramadan juga terlihat Bersama berbagai data industri ritel. Eksperimen Mandiri Spending Index mencatat Kegiatan belanja Komunitas Indonesia Meresahkan Di 6,5% Di minggu ketiga Ramadan, lebih tinggi dibandingkan Ramadan tahun Sebelumnya Itu yang naik Di 5,4%.

Kenaikan ini terlihat Di sejumlah kategori produk. Belanja fesyen tercatat Meresahkan hingga 39,5%, Sambil belanja supermarket naik Di 18,7%. Pembelian produk elektronik juga Meresahkan Di 9%, dan perlengkapan Tempattinggal tangga naik Di 6,3%. Data tersebut Menunjukkan bahwa Ramadan bukan hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga menjadi salah satu periode Bersama Kegiatan konsumsi tertinggi Untuk setahun.

Efek THR dan Faktor Psikologis
Salah satu faktor yang Mendorong lonjakan belanja menjelang Lebaran adalah Tunjangan Hari Raya (THR). Menurut laporan Mandiri Spending Index yang dikutip Katadata, Kegiatan belanja Komunitas Meresahkan Di 7,1% Setelahnya pencairan THR dibandingkan periode Sebelumnya Itu.

Untuk psikologi ekonomi, Kejadian Luar Biasa ini dikenal sebagai mental accounting, yaitu kecenderungan seseorang memperlakukan uang berbeda tergantung Bersama sumbernya. Uang Bersama bonus seperti THR sering Disorot sebagai “uang tambahan”, Agar lebih mudah dibelanjakan.

Hingga Samping Itu, ada juga faktor self-reward behavior. Setelahnya menjalani satu bulan berpuasa Bersama rutinitas yang lebih disiplin, banyak orang merasa ingin memberi Apresiasi kepada diri sendiri. Bentuknya bisa berupa membeli Pengganti Terbaru, memperbarui perlengkapan Tempattinggal, atau membeli Produk yang sudah lama diincar.

Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Menjelang Lebaran Kita Lebih Konsumtif? Ini Faktanya