Wisata  

Tak Hanya Tambah Armada, KAI Tata Ulang Sistem Perkeretaapian



Jakarta

Penambahan kereta api hanyalah Pada kecil Di perubahan besar yang Ditengah dilakukan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Menurut Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, perusahaan Lagi menyusun ulang puzzle besar Untuk layanan yang lebih efektif dan terintegrasi.

Bobby menekankan perbedaan utama Di sektor penerbangan dan kereta api Hingga Indonesia. Hingga sektor penerbangan, maskapai penerbangan, pengatur lalu lintas udara, dan operator bandara biasanya beroperasi sebagai entitas terpisah, tetapi KAI mencakup ketiga peran tersebut sekaligus.

“Kita bicara airlines. Airlines-nya siapa? Garuda, bener nggak? Air Traffic Control-nya siapa? AirNav. Operator Di airport-nya siapa? Angkasa Pura. Coba kita bandingkan Di KAI, siapa yang jalanin keretanya? KAI, siapa yang ngatur relnya? KAI, siapa yang ngurusin stasiunnya? KAI.Three in one, ya,” ujar Bobby Hingga Balai Yasa Manggarai, Rabu (14/1/2026)


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kompleksitas yang terlibat Menunjukkan bahwa Meningkatkan kapasitas angkutan jauh Di sekadar masalah sederhana seperti membeli kereta Mutakhir.

Bobby membandingkan tugas Meningkatkan kapasitas Di proses rumit seperti menyusun ulang puzzle. Penambahan kereta Mutakhir memerlukan evaluasi menyeluruh Di kapasitas listrik, sistem sinyal, ketersediaan rel, dan jumlah perlintasan sebidang.

“Berapa pun trainset yang kita taruh Hingga Bogor Line, pasti habis. Berapa pun trainset yang kita taruh Hingga Bekasi Line, pasti habis. Permasalahan kita Hingga mana? Apakah hanya trainset? Oh, nggak. Dari Sebab Itu itulah indahnya hidup Hingga KAI, kita Lagi petakan ulang semua elemen itu,” dia menambahkan.

Di hukum ekonomi umum, pasokan (supply) biasanya muncul Sebab adanya permintaan (demand). Tetapi, menurut Bobby, Situasi Hingga KAI justru terbalik. Permintaan User kereta api, khususnya KRL Jabodetabek, terus melonjak tanpa menunggu pasokan tersedia.

“Demand Mutakhir ada supply, bener nggak? Ya kan? Misalnya, wah pabrik Kasut Mutakhir ada ketika demand sepatunya ada. Begitu kan.
Kalau yang Bapak pimpin sekarang Hingga KAI ini, kebalik! Berapa pun supply kita taruh, demand ini naik. Kenapa demand-nya naik?
Sebab terpaksa (Kelompok membutuhkan transportasi massal),” kata dia.

Pada ini, KAI Ditengah Melakukanupaya mengurai kepadatan tersebut Di solusi komprehensif, tidak hanya menambah armada Di INKA atau Pembelian Barang Di Luar Negeri, tetapi juga membenahi kapasitas stasiun dan lingkungan pendukungnya.

Selain infrastruktur fisik, Bobby menekankan pentingnya transformasi proses Usaha Di berbasis dokumen (document-based) menjadi berbasis kecerdasan buatan atau AI-based.

Dia menegaskan bahwa Ilmu Pengetahuan tinggi ini bukan Untuk menggantikan manusia, melainkan Untuk Meningkatkan Standar SDM dan keselamatan.

Bobby Memutuskan contoh risiko kelelahan (fatigue) Di masinis yang dapat menurunkan kewaspadaan. Hingga sinilah Ilmu Pengetahuan berperan Untuk membantu (assist) manusia.

“Kita tidak Pertempuran Di mesin, tapi kita menjadi bosnya Pc. Manusia punya sifat fatigue. Ketika dia lelah, tidak konsisten. Inilah kenapa kita butuh Pc dan mesin Untuk membantu, seperti Ilmu Pengetahuan otonom Hingga LRT atau autopilot Hingga pesawat,” ujar dia.

Bobby menyoroti pergeseran Ilmu Pengetahuan bahan baku Di sudut pandang industri Produksi kereta api. Berbeda Di ketergantungan Di baja berat Hingga masa lalu, Gaya Pembaruan Pada ini beralih Hingga penggunaan bahan polimer atau komposit karbon yang lebih ringan Tetapi lebih kuat.

Sebagai respons Di tantangan alam atau Area Pemantauan Khusus (Gapsus) seperti Bencana Alam dan longsor, KAI beralih Di pemantauan manual Hingga penggunaan Ilmu Pengetahuan Alat Pengindera.

“Banyak Gapsus-gapsus yang sekarang kita kawal Di orang, bisa diganti Di Ilmu Pengetahuan? Bisa. Dari Sebab Itu ada beberapa sekarang Lokasi longsoran itu kita pasang Alat Pengindera Untuk longsor,” ujar dia.

“Setelahnya Itu Untuk Lokasi aliran sungai, kita pasang Alat Pengindera itu tahu nggak Hingga mana? Hingga ujung sungainya, Hingga hulu sungainya. Dari Sebab Itu kita bisa deteksi ketika airnya naik, kita bisa perkirakan dia Berencana menenggelamkan relnya itu Hingga berapa jam atau berapa menit Setelahnya Itu,” kata dia lagi.

Malahan, intervensi fisik pun dilakukan Untuk menyelamatkan jalur kereta.

“Itu secara Ilmu Pengetahuan kita sudah mulai Hingga sana. Secara fisikalnya bagaimana? Fisikalnya banyak rel terutama yang Hingga Jawa Ditengah tuh, yang Hingga utara Jawa Ditengah, mulai kita bendung,” ujar dia.

“Rencananya kita juga Berencana belokkan aliran sungai Sebab sungainya salah belok. Sungainya lurus tiba-tiba belok Sebab sedimen juga, perubahan alam, sungainya belok, belokannya itu Hingga arah rel kita. Sekarang kita mau belokin lagi sungainya,” dia menegaskan.

(fem/fem)

Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita News: “Tak Hanya Tambah Armada, KAI Tata Ulang Sistem Perkeretaapian”